Kamis, 26 Mei 2011

AL-QUR’AN SEBAGAI WAHYU




“Sesungguhnya banyak dari keajaiban al-Qur’an yang mengantarkan aku ke dalam suatu bahasan. Ketika aku tekuni bahasan itu, tak terasa aku telah menghabiskan waktu semalam suntuk, sementara aku belum juga menemui kepuasanku”. Pernyataan ini dari Muhammad bin Ka’ab al-Qarzhi, seorang pakar tafsir pada akhir pemerintahan ‘Ali bin Abi Thalib. Ia keturunan Yahudi Bani Quraizhah. Nabi SAW meramalkannya dalam sebuah hadis, “Akan lahir dari salah satu dua kabilah Yahudi (al-kahinaini), seorang laki-laki yang mempelajari al-Qur’an dengan sungguh-sungguh dan tidak ada lagi setelahnya orang yang segiat dia dalam mempelajari al-Qur’an” (Muhammad Waliyullah an-Nadawi, 2005: 108). Al-Qur’an adalah lautan ilmu yang sangat luas dan dalam. Semakin diperdalam, semakin banyak rahasia kehidupan yang ditemukan.

A.  Pengertian Al-Qur’an dan ‘Ulum al-Qur’an
Secara bahasa, kata al-Qur’an berarti “bacaan” atau “kumpulan”. Al-Qur’an bukan sekedar bacaan, tetapi juga bahan kajian dan penelitian. Ini yang membedakan qiro-ah (reading) dengan tila-wah (reciting). Al-Qur’an yang dibaca dengan akal pikiran dinamakan Qiro-atul Qur’an, sedangkan al-Qur’an yang hanya sekedar dibaca dengan lisan saja disebut dengan Tila-watul Qur’an. Ada orang yang membaca al-Qur’an (qiro-ah) dan ada pula yang membacakannya (tila-wah). Aktivitas membaca al-Qur’an bisa ditemui pada kelas-kelas pengajaran al-Qur’an. Di kelas ini, semua ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan al-Qur’an diajarkan. Pelajaran Biologi, misalnya, yang mengaitkan pengajaran makhluk hidup dengan ayat-ayat al-Qur’an bisa dikatakan “membaca al-Qur’an”.

Sementara itu, kegiatan “membacakan al-Qur’an” dapat dijumpai di acara-acara keagamaan, seperti peringatan hari besar Islam, ritual pernikahan, dan sebagainya. Dalam kegiatan ini, ada orang yang bertugas membacakan al-Qur’an, sedangkan orang lain hanya mendengarkan.
Dalam pengertian istilah, arti utama al-Qur’an adalah firman Allah SWT. Namun, arti ini perlu ditambah beberapa batasan yang terkait dengan al-Qur’an, yaitu.
  1. Memiliki kehebatan yang luar biasa hingga mampu melemahkan lawan yang hendak menandinginya.
  2. Diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul yang paling akhir.
  3. Diterima Nabi SAW dari Allah SWT melalui perantaraan malaikat Jibril.
  4. Tertulis dalam lembaran-lembaran yang kemudian dibukukan. Dalam buku ini, penulisan al-Qur’an dimulai dari surat al-Fatihah dan berakhir dengan surat al-Nas.
  5. Umat Islam menerimanya dari Nabi SAW melalui banyak orang secara terus-menerus antar generasi yang tidak mungkin menimbulkan kedustaan.
  6. Membacanya dengan lisan (tilawah) maupun pikiran (qiro-ah) bisa dinilai ibadah.
  7. Menjadi pedoman hidup bagi umat manusia, sekaligus bukti atas kenabian Nabi Muhammad SAW.
  8. Kata-katanya berbahasa Arab atau bahasa lain yang diserap sebagai bahasa Arab.
Semula al-Qur’an adalah bacaan yang bisa ditulis dengan kata-kata. Nabi SAW menerimanya dalam wujud bacaan, lalu dimintakan kepada para sahabat untuk menulisnya. Wujud tulisan ini dibacakan lagi di hadapan Nabi SAW. Setelah mendapat persetujuannya, baru tulisan tersebut dihafalkan dan diajarkan. Dengan wujud tulisan, al-Qur’an bisa terjamin keasliannya serta bersifat tetap meski kondisi masyarakat telah berubah dari masa ke masa. Dari tulisan al-Qur’an tersebut, muncul ragam ilmu pengetahuan yang terkait dengannya. ‘Ulumul Qur’an (Pengetahuan Tentang Al-Qur’an) adalah nama untuk ragam ilmu pengetahuan tersebut. Ulumul Qur’an merupakan hasil kreasi manusia yang didapatkan melalui ilham, sehingga ia bisa berubah. Berbeda dengan al-Qur’an yang tidak bisa berubah sama sekali, karena ia adalah wahyu yang tertulis.

B.  Perbedaan Wahyu dan Ilham
Meskipun secara bahasa tidak ada perbedaan antara wahyu dan ilham, namun kedua adalah dua sisi yang membedakan kualitas manusia: antara nabi dan bukan nabi. Ilham diberikan kepada setiap manusia, sedangkan wahyu hanya diberikan kepada para nabi. Meski keduanya berasal dari Allah SWT, namun cara penerimaannya yang berbeda. Ilham adalah penyusupan makna, pemikiran, kabar, atau hakekat dalam hati lewat limpahan karunia batin dari Allah SWT. Jalan untuk mendapatkan ilham bisa lewat usaha rohani maupun tanpa usaha (Yusuf Qardhawi, 1997: 16).

Ketika menafsirkan surat al-Syams: 8, Quraish Shihab (2002: XV: 297) menulis pemahaman tentang ilham,
“Memang ilham atau intuisi datang secara tiba-tiba tanpa disertai analisis sebelumnya, bahkan kadang-kadang tidak terpikirkan sebelumnya. Kedatangannya bagaikan kilat dalam sinar dan kecepatannya, sehingga manusia tidak bisa menolaknya, sebagaimana tidak dapat pula mengundang kehadirannya. Potensi ini ada pada setiap insan, walaupun peringkat dan kekuatannya berbeda antara seseorang dengan yang lain”.
Setiap manusia pasti mendapatkan pengetahuan mengenai hal yang baik dan buruk berdasarkan akalnya. Pengetahuan ini merupakan ilham dari Allah SWT. Kelanjutan pengetahuan dalam sikap dan perbuatan merupakan kehendak manusia. Agar manusia cenderung berbuat baik dan meninggalkan perbuatan buruk, maka Allah SWT mengutus para nabi yang telah mendapatkan wahyu dari-Nya. Dengan demikian, Allah SWT Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karena memberikan ilham kebaikan dan keburukan kepada manusia serta mengutus para nabi untuk memberikan petunjuk kepada manusia menuju jalan yang benar.

Manusia dengan akalnya yang diberi ilham saja tidak cukup untuk menapaki jalan kebenaran. Tidak jarang keinginannya menerobos kebenaran yang diyakininya, sehingga kebenaran menjadi subyektif yang diukur sesuai dengan keinginannya. Karena itu, wahyu sangat diperlukan bagi manusia. Wahyu tidak hanya disampaikan, tetapi juga harus dilaksanakan oleh penerima wahyu. Hanya manusia pilihan Allah SWT yang diberi wahyu. Dengan wahyu yang diterimanya, para nabi wajib melaksanakannya sekaligus menjadi contoh dalam pelaksanaannya.

Sesungguhnya, para nabi hanya manusia biasa, sebagaimana manusia pada umumnya, sebagaimana ditegaskan oleh Surat al-Kahfi ayat 110 yang artinya: Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kalian itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Al-Qur’an adalah hasil wahyu, bukan ilham. Ketika menerima wahyu al-Qur’an, badan Nabi SAW terasa berat hingga keringatnya bercucuran. Meski demikian, Nabi SAW senang menerimanya. Nabi SAW pernah tidak menerima wahyu dalam jangka waktu yang lama. Nabi SAW sedih. Masyarakat pun mengolok-olok Nabi SAW sebagai orang yang telah ditinggal Tuhannya. Akhirnya, turunlah surat al-Dluha. Nabi SAW pun kembali bahagia. Terkadang Nabi SAW berharap datangnya wahyu. Namun, kedatangannya pun tidak tepat. Padahal, Nabi SAW diminta mengatasi permasalahannya. Demikian ini merupakan lika-liku penerimaan wahyu oleh Nabi SAW. Bukan kehendak Nabi SAW, melainkan Kehendak Allah SAW. Nabi SAW adalah manusia terakhir yang mendapatkan wahyu, selanjutnya manusia hanya bisa mendapatkan ilham. Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang mengumpulkan wahyu, berikutnya hanya buku yang ditulis berdasarkan ilham. Selain wahyu Al-Qur’an, Nabi SAW juga mendapatkan wahyu di luar al-Qur’an yang disebut hadis. Al-Qur’an juga telah menjadi dasar atas wahyu hadis ini, antara lain: surat al-Najm ayat 3-4 dan surat al-Hasyr ayat 7.

C.  Perbedaan Wahyu al-Qur’an dan Wahyu Hadis
Wahyu apapun yang didapatkan oleh Nabi SAW sumbernya berasal dari Allah SWT. Nabi SAW tidak hanya berperan sebagai nabi dan rasul, tetapi juga sebagai keteladanan bagi umat manusia. Karenanya, seluruh kehidupan Nabi SAW adalah wahyu Allah SWT yang memungkinkan untuk diikuti oleh manusia. Seluruh kehidupan Nabi SAW ini dinamakan hadis. Dalam diri Nabi SAW, Allah SWT menunjukkan keutamaan Nabi SAW sekaligus kebiasaannya sebagai manusia biasa. Ketika Nabi SAW melakukan kesalahan perhitungan dalam pola tanam pohon korma, maka hal ini juga menjadi pelajaran bahwa Nabi SAW juga bisa salah. Hanya saja, kesalahan tersebut tidak membuat kejatuhan moral Nabi SAW.
Agar wahyu al-Qur’an terpisah dari wahyu yang lain, Nabi SAW membacakan ayat al-Qur’an secara tersendiri. Para sahabat yang hidup bersama Nabi SAW telah bisa membedakan antara wahyu al-Qur’an dan hadis. Melalui bimbingan Nabi SAW, mereka bisa membedakan catatan dan hafalan al-Qur’an dan hadis. Setelah jauh dari masa Nabi SAW, para ulama telah merumuskan perbedaan antara wahyu al-Qur’an dan wahyu hadis. Dalam wahyu al-Qur’an, semua kalimat dan makna berasal dari Allah SWT. Dalam wahyu hadis, hanya makna yang berasal dari Allah SWT, sedangkan kalimatnya disusun oleh Nabi SAW sendiri. Al-Qur’an mengandung tantangan yang mampu melemahkan lawan, hadis tidak demikian (Manna’ al-Qaththan, 1994: 26-27). Nabi SAW memberikan perhatian lebih dalam pencatatan al-Qur’an dibanding hadis.

Wahyu hadis dapat dibagi menjadi dua bentuk, yaitu hadis Nabi SAW dan hadis Qudsi. Jika terdapat sandaran Firman Allah SWT yang diucapkan Nabi SAW saat menyatakan hadis, maka disebut hadis Qudsi. Di hadis Nabi SAW, tidak ada sandaran Firman Allah SWT. Contoh redaksi hadis Qudsi adalah “kata Nabi SAW: Allah SWT telah berfirman, ......” atau “dari Nabi SAW mengenai Firman Allah SWT: .....”. Meski ada ungkapan Firman Allah SWT, hadis Qudsi tetap bukan al-Qur’an serta tidak bisa dihukumi sama dengan al-Qur’an. Keagungan al-Qur’an tidak dapat dibandingkan dengan yang lain. Keagungannya ini juga tampak dari nama-namanya.

D.  Beberapa Sebutan Lain untuk Al-Qur’an
Selain nama al-Qur’an yang dikemukakan oleh al-Qur’an sebanyak 73 kali, al-Qur’an juga memiliki nama-nama lain yang menunjukkan sisi fungsi al-Qur’an. Nama-nama tersebut adalah
1.    Al-Tanzil, menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah diturunkan dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, bukan sesuatu yang diajarkan, dikirimkan, maupun ditemukan. Akan tetapi, al-Qur’an dihujamkan ke diri Nabi SAW dengan berangsur-angsur, mengingat hujaman itu terasa sangat berat. Nama ini disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 142 kali, antara lain: Luqman: 21, Muhammad: 2 dan 26, Saba’: 6, Fushshilat: 42, al-Haqqah: 43, dan al-Ma-idah: 44.

2.    Al-Kitab, menunjukkan bahwa al-Qur’an wahyu yang bisa ditulis dalam bentuk huruf dan kalimat. Hal ini terbukti dari apa yang dibacakan Nabi SAW ternyata bisa ditulis dalam bentuk huruf, kata, dan kalimat. Semua kitab yang diterima para nabi juga disebut dengan al-Kitab, karena melalui proses dari bacaan ke tulisan. Al-Qur’an mengutarakannya sebanyak 74 kali, antara lain: al-Baqarah: 2, al-‘Ankabut: 47,48, dan 51, Fathir: 29, al-Zumar:1, dan Fushshilat: 3.

3.    Al-Furqon, menunjukkan bahwa al-Qur’an merupakan ukuran tepat yang membedakan perkara yang benar dan yang salah. Kebenaran dan kesalahan sangat subyektif. Seringkali seseorang mengklaim dirinya benar. Untuk membuktikan klaimnya, ukuran yang bisa dipakai adalah al-Qur’an. Nama ini hanya terdapat dalam ayat 1 surat al-Furqon.

4.    Al-Haqq, menunjukkan bahwa al-Qur’an memiliki ajaran yang benar. Secara bahasa, al-Haqq berarti keadilan dan pertengahan. Karenanya, kebenaran al-Qur’an tampak dari sisi pertengahan antara dua hal yang ekstrem: memperhatikan kehidupan duniawi dan ukhrawi, mengemukakan kepentingan individu dan sosial; tidak terlalu mengikat dan tidak terlalu membebaskan; mengemukakan hak dan kewajiban, ada pahala dan dosa, dan seterusnya. Nama ini disebut al-Qur’an sebanyak 61 kali, antara lain: Yunus: 84 dan 108, al-Nisa’: 170, al-Maidah: 83 dan 84, al-An’am: 5, dan Hud: 17.

5.    Al-Huda, menunjukkan bahwa al-Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia yang ingin meraih kebahagiaan dunia dan akherat. Siapapun, baik muslim atau kafir, yang mempelajari al-Qur’an dan menjadikannya petunjuk hidup di dunianya, maka ia akan menemukan kemajuan hidupnya. Siapapun juga yang hidupnya menyalahi aturan al-Qur’an, maka ia akan menemukan kesengsaraannya. Nama al-Huda dikemukakan oleh al-Qur’an sebanyak 47 kali, antara lain: al-nahl: 89, al-Qashash: 85, al-Taubah: 33, al-Kahfi: 55, al-Baqarah: 97, al-Fath: 28, dan Ali ‘Imran: 138.

6.    Al-Bayyinah, menunjukkan bahwa al-Qur’an merupakan bukti dari kenabian Nabi Muhammad SAW. Dalam agama, ada dua hal yang tidak dapat dipisahkan, yaitu ajaran agama dan penyampai ajaran tersebut. Untuk menjelaskan ajaran agama sesuai dengan karakter manusia, perlu nabi yang diutus dari golongan manusia. Nama al-Bayyinah terdapat dalam al-Qur’an di 30 ayat, antara lain: al-Shaff: 6, al-Baqarah: 159, al-Nur: 34, 46, al-Ahqaf: 7, al-Hijr: 1, dan Ghafir: 66.

7.    Al-Syifa’, menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah obat, terutama obat hati, agar mendapatkan ketenangan jiwa. Nama ini diungkapkan dalam surat: Yunus: 57, al-Isra’: 83, dan Fishshilat: 44.

8.    Al-Dzikr/al-Tadzkirah, menunjukkan bahwa al-Qur’an menjadi peringatan bagi manusia mengenai dirinya: asalnya, keberadaannya, kewajibannya, kehidupannya, tempatnya kembali, dan sebagainya. Nama ini dikemukakan sebanyak 55 kali, antara lain: al-Hijr: 6 dan 9, Fishshilat: 41, al-Anbiya’: 50, Thaha: 3, dan Shad: 8.

Selain nama-nama di atas, masih banyak lagi nama-nama yang dilekatkan pada al-Qur’an. Semua nama tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan fungsi al-Qur’an, sehingga diharapkan orang yang mengetahuinya semakin tertarik dengan al-Qur’an.

E.  Fungsi Al-Qur’an
Al-Qur’an ditujukan kepada makhluk Allah SWT yang dilengkapi akal, yaitu manusia. Apapun yang dinyatakan oleh al-Qur’an pasti sasarannya adalah manusia. Ketika al-Qur’an membicarakan tentang planet-planet di ruang angkasa, maka tujuan pembicaraannya adalah mengajak manusia untuk memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, agar ia dapat menemukan atau mempertebal imannya. Oleh karena itu, fungsi al-Qur’an juga terkait dengan karakter manusia.

Di bawah ini, beberapa karakter manusia yang terkait dengan fungsi al-Qur’an.
1.    Manusia adalah makhluk yang berakal. Al-Qur’an berfungsi tidak hanya mendorong akal manusia agar senantiasa berpikir, tetapi juga al-Qur’an bisa dijadikan obyek pemikiran manusia. Pada masa al-Qur’an diturunkan, tidak sedikit manusia kafir yang belum memahami kandungan al-Qur’an, hingga menyatakan Nabi SAW sebagai orang yang gila. Pola pemikiran manusia saat itu belum menggapai kebenaran al-Qur’an. Saat manusia telah mencapai kemajuan ilmu pengetahuan, sedikit demi sedikit kebenaran al-Qur’an mulai terkuak.

2.    Manusia adalah makhluk sosial. Dalam hidup bersama orang lain, perlu ada aturan yang dijadikan pedoman, sehingga keharmonisan sesama manusia dapat tercapai. Dalam hal ini, al-Qur’an telah menawarkan pola hubungan yang tepat sekaligus memberikan contoh-contoh kelompok yang mengikuti al-Qur’an dan kelompok yang mengabaikannya. Al-Qur’an juga menguraikan karakteristik manusia, baik sebagai individu maupun kelompok. Al-Qur’an berfungsi sebagai pedoman hidup bagi manusia dalam menjalin hubungan antar sesama.

3.    Manusia adalah makhluk yang lemah. Ia lemah dari sisi rohani maupun jasmani. Al-Qur’an telah menunjukkan penyebabnya serta memberikan alternatif cara mengatasinya. Dalam hal ini, al-Qur’an befungsi sebagai obat yang menyembuhkan manusia, terutama penyakit rohaninya.

4.    Manusia adalah makhluk yang diangkat oleh Allah SWT menjadi Khalifah di muka bumi. Semua yang ada di muka bumi dikuasakan dan ditundukkan Allah SWT kepada manusia. Melalui al-Qur’an, Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk menjaga kelestarian aneka ragam hayati di muka bumi. Untuk itu, di antara fungsi al-Qur’an adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Dengan al-Qur’an pula, manusia diberi tuntunan: bagamana cara mengelola alam yang benar.

5.    Manusia adalah makhluk yang merindukan Tuhan. Persoalan ketuhanan senantiasa tergambar dalam sejarah manusia, sejak Nabi Adam AS hingga akhir zaman. Boleh jadi, ia mengaku tidak memerlukan Tuhan, namun sejatinya sangat membutuhkan Tuhan. Tidak sedikit manusia berada dalam kesesatan dalam mencari Tuhan. Karenanya, al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk mengenai Tuhan. Al-Qur’an tidak hanya memberitahukan Nama Tuhan, melainkan pula Sifat-sifat-Nya Yang Maha Agung. Hanya saja, al-Qur’an tidak menunjukkan gambar Tuhan, mengingat demikian ini telah sangat jelas dan sangat dekat bagi manusia.

6.    Manusia adalah bagian dari makhluk Allah SWT. Semua alam semesta tertuju kepadanya. Penyebutan bagian-bagian alam semesta oleh al-Qur’an adalah upaya menyadarkan manusia: betapa semua alam ini memberikan perhatian kepadanya. Al-Qur’an juga telah memberitahukan perjalanan panjang manusia. Kehidupannya di dunia adalah bagian terkecil sekaligus menentukan perjalanan selanjutnya. Al-Qur’an menjelaskan rencana Allah SWT dalam perjalanan tersebut. Dengan penjelasan ini, al-Qur’an berfungsi sebagai informasi valid mengenai peristiwa masa depan.

7.    Manusia adalah pelaku sejarah. Langkah-langkahnya disorot oleh generasi sesudahnya. Dengan akalnya yang tajam, peristiwa ribuan tahun yang lalu dapat ditelusurinya. Terkadang hasil penelitiannya berakhir dengan kesalahan. Oleh sebab itu, al-Qur’an yang memberitahukan kejadian-kejadian masa lalu bisa dijadikan rujukan sejarah. Kebenaran al-Qur’an tidak diragukan lagi. Ternyata, peristiwa sejarah yang dinyatakan oleh al-Qur’an semakin terkuak oleh penelitian arkeologi.

8.    Manusia adalah makhluk penerima beban dan amanah. Apa yang dilakukan manusia mengandung akibat hukum. Sanksi pasti dijatuhkan seadil-adilnya. Ada perintah dan ada pula larangannya; ada pahala sekaligus ada dosa; ada sorga serta ada neraka. Semua ini dinyatakan oleh al-Qur’an yang berfungsi sebagai hukum Allah SWT.

Fungsi al-Qur’an semakin banyak seiring dengan semakin terkuaknya kebenaran al-Qur’an. Sebagai kitab Allah SWT, al-Qur’an tidak bertentangan sedikitpun dengan kitab-kitab Allah SWT yang diturunkan sebelumnya. Bahkan, al-Qur’an memberitahukan adanya penyelewengan manusia atas kitab-kitab Allah SWT hingga terjadi banyak perubahan. Untuk itu, al-Qur’an dinyatakan lebih unggul dibanding kitab-kitab Allah SWT yang lain. Keunggulan ini dapat terlihat dari perbedaan keduanya.

F.   Perbedaan Al-Qur’an dengan Kitab Suci Sebelumnya
Imam al-Nasafi, seperti yang dikutip oleh Syekh Ahmad bin Hijazi al-Fisyani (t.t.: 3), mengemukakan bahwa jumlah semua kitab yang diturunkan dari langit ke bumi sebanyak 104 lembaran suci: 60 lembar untuk Nabi Syits AS., 30 lembar untuk Nabi Ibrahim AS., 10 lembar untuk Nabi Musa AS. sebelum menerima kitab Taurat, lalu Kitab Taurat, Kitab Zabur untuk Nabi Dawud AS., Kitab Injil untuk Nabi Isa AS., dan Kitab al-Qur’an untuk Nabi Muhammad SAW. Kandungan seluruh kitab tersebut terkumpul dalam al-Qur’an. Apabila seseorang ingin mengetahui isi Kitab Injil sebagaimana yang diturukan kepada Nabi Isa AS., maka ia cukup mencarinya dalam al-Qur’an. Demikian pula, bila ia ingin mencari pesan lembaran wahyu yang diterima oleh Nabi Syits AS, Nabi Ibrahim AS, atau  Nabi Musa AS.

Ajaran-ajaran agama yang terkandung dalam lembaran-lembaran maupun kitab-kitab suci terdahulu merupakan gambaran persoalan yang dihadapi umat para nabi yang menerimanya. Sedangkan al-Qur’an memuat gambaran manusia secara universal: masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Apa yang termaktub dalam kitab Taurat lebih menekankan ketegasan atas umat Nabi Musa AS yang sulit diatur.  Surat al-Baqarah ayat 54 memaparkan bahwa Nabi Musa AS memerintahkan umatnya untuk bunuh diri sebagai tobat. Sebagaimana umat Nabi Ibrahim AS., umat Nabi Musa AS cenderung memperhatikan kemewahan dunia dan menjauhi urusan akherat (Al-A’la: 14-19). Ketegasan Kitab Taurat ini diabaikan. Mereka justru mengharamkan hal-hal yang dihalalkan serta menghalalkan apa yang diharamkan Allah SWT. Beberapa nabi yang diutus Allah SWT tidak bisa membuat mereka sadar. Kebebasan mereka semakin tidak terkendali. Pada masa Nabi Isa AS, Kitab Injil menekankan aspek kerohanian, agar kebebasan tersebut bisa dikendalikan. Namun, beberapa pendeta mencoba menafsirkannya secara ketat, sehingga kebebasan manusia kembali terbelenggu. Kesucian diidentikkan dengan penjauhan dari kehidupan duniawi. Akhirnya, al-Qur’an diturunkan untuk menyelaraskan kehidupan manusia secara universal. Al-Qur’an mendudukkan manusia sesuai dengan fitrahnya.

Sebagai penyempurna, al-Qur’an dijamin keasliannya oleh Allah SWT. Berulang kali terjadi upaya merubah kandungan dan tulisan al-Qur’an oleh pihak-pihak tertentu, namun upaya ini selalu digagalkan. Selain itu, semangat untuk menghafal al-Qur’an terus berkobar di dada umat Islam. Keadaan ini tidak terjadi pada kitab-kitab terdahulu, sehingga beberapa pemuka agama berhasil merubah sebagian kandungannya. Ketika perubahan ini disampaikan kepada Nabi SAW, dijawab, “Jangan kalian dustakan seluruhnya dan jangan pula kalian benarkan seluruhnya”. Artinya, ada kebenaran dan kedustaan dalam Kitab Taurat dan Kitab Injil. Untuk membuktikan kedustaannya, al-Qur’an merupakan satu-satunya ukuran.

Selain menjadi kitab suci, al-Qur’an sekaligus sebagai mukjizat Nabi (Manna’ al-Qaththan, 1994: 275 ) Muhammad SAW. Mukjizat ini tetap berlaku, meski Nabi SAW telah wafat. Kitab-kitab sebelum al-Qur’an hanya memuat petunjuk, sedangkan mukjizat hanya melekat pada diri Nabi yang menerimanya. Begitu nabi tersebut telah wafat, maka mukjizatnya pun telah hilang. Bahkan, petunjuk dalam kitab suci diabaikan oleh umatnya. Karenanya, setelah wafatnya Nabi Musa AS, Allah SWT mengutus beberapa nabi kepada kaum Israil agar kembali kepada ajaran Taurat. Tidak demikian dengan Nabi SAW, begitu ia telah wafat, maka para ulama yang menuntun umat Islam agar kembali kepada ajaran al-Qur’an. Setiap keengganan, penolakan, bahkan penghinaan akan dijawab oleh al-Qur’an, para ulama hanya menyampaikannya saja. Jawaban al-Qur’an ini akan memunculkan keajaiban-keajaiban yang hanya bisa dilihat dan dirasakan oleh manusia yang menggunakan akalnya.

G.  Keajaiban Al-Qur’an
Keajaiban al-Qur’an berbeda dengan keajaiban yang lain. Keajaiban al-Qur’an bersifat mukjizat. Mukjizat adalah“suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seseorang yang mengaku Nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu”(Quraish Shihab, 1998: 23). “Ketidakmampuan ini semata-mata di luar jangkauan manusia”, tulis Hafni M. Syaraf (1970: 7). Definisi mukjizat secara singkat dikemukakan oleh Manna’ al-Qaththan (1994: 259) sebagai berikut:
أمر خارق للعادة مقرون بالتحدي سالم عن المعارضة
“Suatu perkara yang luar biasa dengan disertai tantangan yang tidak mungkin tertandingi”.
Definisi di atas mengandung empat unsur mukjizat, yaitu peristiwa luar biasa, Nabi, tantangan, dan tidak tertandingi. Al-Shabuni (1985: 101) menambahkan satu unsur lagi, yaitu kekuasaan Allah SWT. Bagi Daud al-Aththar (1994: 51), unsur-unsur mukjizat adalah ketidakmampuan orang-orang lain untuk mendatangkannya; ia melanggar hukum-hukum alam; ia bukan mustahil secara akal; dan ia berlaku dalam mendukung klaim perutusan Ilahi.

Dari pengertian mukjizat di atas, tujuan mukjizat al-Qur’an adalah.
1.    Membuktikan bahwa Nabi Muhammmad SAW yang membawa mukjizat kitab al-Qur’an itu adalah benar-benar seorang Nabi/Rasul Allah.
2.    Membuktikan bahwa kitab al-Qur’an itu benar-benar wahyu Allah SWT, bukan buatan malaikat Jibril dan bukan tulisan Nabi Muhammad SAW.

3.    Menunjukkan kelemahan mutu sastra bahasa manusia, karena terbukti pakar-pakar pujangga sastra dan seni bahasa Arab tidak ada yang mampu mendatangkan kitab tandingan yang sama seperti al-Qur’an.
4.    Menunjukkan kelemahan daya upaya dan rekayasa umat manusia yang tidak sebanding dengan keangkuhan dan kesombongannya (Shihab, 35-36).

Sebagai mukjizat yang terbesar, al-Qur’an menyampaikan tantangan dengan sesuatu yang paling kecil dan remeh, yaitu membuat satu surat yang sepadan dengan surat al-Qur’an. Padahal, surat al-Qu’an yang paling pendek hanya terdiri dari tiga ayat. Sesungguhnya, semula tantangan al-Qur’an adalah membuat perkataan semacam al-Qur’an dengan melibatkan manusia dan jin (al-Isra’: 88). Karena tidak ada kesanggupan, tantangan tersebut diturunkan dengan menawarkan pebuatan sepuluh surat (Hud 13). Ketika hal ini juga tidak disanggupi, tantangan al-Qur’an menurun, yaitu membuat satu surat dengan melibatkan siapapun –tidak hanya jin dan manusia saja- kecuali Allah SWT (Yunus: 38). Allah SWT Maha Mengetahui bahwa tak satu pun makhluk-Nya yang mampu memenuhi tantangan di atas.

Karena al-Qur’an berwujud teks yang bisa dibaca dan dipahami, maka mukjizat al-Qur’an dapat dibagi menjadi sisi, yaitu tulisan, bacaan, dan kandungan. Tulisan al-Qur’an terkait dengan bahasa, susunan kalimat, ketepatan kata, bahkan jumlah kata. Dalam al-Qur’an, kata Iblis disebutkan sampai 11 kali, maka ayat yang menyuruh mohon perlindungan dari Iblis itu juga disebutkan 11 kali pula. Hal lain terkait kaedah bahasa adalah perubahan kata ganti di beberapa ayat, terkadang Allah SWT menggunakan kata “Aku”, “Dia”, “Kami”, “Engkau”, “Tuhan”, dan “Allah”. Semuanya sesuai dengan konteks ayat masing-masing.

Bacaan berhubungan dengan aspek pendengaran yang bermuara pada badan. Ada perubahan badan saat membaca lantunan ayat suci al-Qur’an. Dalam hal ini, Quraish Shihab (1998: 235-237) semula berpandangan bahwa mukjizat al-Qur’an hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang percaya saja. Akan tetapi, tatkala Quraish Shihab membaca laporan ilmiah yang dikemukakan oleh Muh}ammad Kamil ‘Abdusshomad yang berjudul al-I’jaz al-‘Ilmi fi al-Qur’an (Mukjizat Ilmiah dalam al-Qur’an), Quraish Shihab akhirnya menyatakan bahwa mukjizat juga bisa berpengaruh kepada siapapun yang membacanya. Dalam laporan tersebut, diutarakan bahwa hasil eksperimen medis -dengan responden muslim dan non-muslim- tentang perbandingan bacaan al-Qur’an, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris menunjukan tingginya tingkat ketenangan bacaan al-Qur’an di atas bacaan yang lain.

Sementara itu, kandungan al-Qur’an bersentuhan dengan ilmu pengetahuan, sejarah, berita ghaib, hukum, dan sebagainya. Hampir banyak kebenaran yang diungkapkan oleh al-Qur’an telah dibuktikan oleh sains. Saat menjelaskan surat al-Fajr: 7 berkenaan dengan kota Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, M. Quraish Shihab (2003: XV: 248) melaporkan,“Bukti arkeologis lain tentang kota Iram adalah hasil ekspedisi Nicholas Clapp di gurun Arabia Selatan. Nicholas menemukan bukti dari seorang penjelajah tentang jalan kuno ke kota Iram, kota yang juga dikenal dengan nama Ubhur. Atas bantuan dua orang ahli lainnya, yaitu Yuris Zarin, dari Universitas negara Bagian Missouri Barat Daya dan penjelajah Inggris, Sir Ranulph Fiennes, mereka berusaha mencari kota yang hilang itu bersama ahli hukum George Hedges. Mreka menggunakan jasa pesawat ulang alik Callenger dengan Sistem Satellite Imaging Radar (SIR) untuk mengintip bagian bawah gurun Arabia yang diduga sebagai tempat tenggelamnya kota yang terkena longsor itu.

Untuk lebih meyakinkan, mereka meminta bantuan jasa satelit Perancis yang menggunakan sistem penginderaan optik. Akhirnya, mereka menemukan citra digital berupa garis putih pucat yang menandai beratus-ratus kilometer rute kafilah yang ditinggalkan. Sebagian berada di bawah tumpukan pasir yang telah menimbun selama berabad-abad hingga mencapai ketinggian seratus delapan puluh tiga meter. Berdasarkan data ini, Nicholas Clapp dan rekan-rekannya meneliti tanah tersebut dan melakukan pencarian pada akhir tahun 1991. Pada Bulan Pebruari 1992, mereka menemukan bangunan segi delapan dengan dinding-dinding dan menara-menara yang tinggi mencapai sekitar sembilan meter. Agaknya itulah yang dimaksud oleh ayat 7 di atas”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar